Itishom.web.id

Berbagi Ilmu Menebar Rahmat

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Majelis Ta'lim Al I'tishom bisSunnah

Memahami Bacaan makna Sholat bag.3

E-mail Cetak PDF

DOA ISTIFTAH

Setelah takbiratul ihraam, selanjutnya kita disunnahkan membaca Do’a iftitah/ istiftah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘Alahi wa sallam. Banyak bacaan do’a iftitah yang disebutkan dalam hadits yang shohih. Disunnahkan untuk membaca salah satu dari doa tersebut dan para Ulama’ menjelaskan bahwa yang terbaik adalah kita berganti-ganti membacanya pada setiap sholat, sehingga tidak hanya terpaku pada satu macam bacaan iftitah pada setiap sholat kita. Dalam satu sholat kita menggunakan satu macam bacaan, kemudian pada sholat berikutnya menggunakan macam bacaan yang lain. Hal tersebut akan lebih tepat dan sesuai dengan Sunnah Nabi serta akan lebih memudahkan kita mengamalkan seluruh bacaan-bacaan yang dituntunkan oleh beliau. Namun, jika dia tidak mampu menghapalnya kecuali hanya satu saja dan selalu membaca satu macam tersebut pada setiap sholat, maka hal itu tidaklah mengapa. Di antara bacaan-bacan iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘Alahi wa sallam adalah :

1( Bacaan yang disebutkan dalam Hadits Al-Bukhari-Muslim dari Sahabat Abu Hurairah 4:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ

“ Ya Allah jauhkanlah antara aku dengan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara barat dengan timur. Ya Allah bersihkan aku dari dosa-dosaku sebagaimana terbersihkannya baju putih dari noda (yang mengenainya). Ya Allah cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun “ (disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya dari Sahabat Abu Hurairah).

Makna secara umum :

Kita memohon kepada Allah supaya Ia jauhkan kita dari perbuatan-perbuatan dosa sebagaimana Ia menjauhkan antara timur dan barat yang tidak akan berkumpul selamanya. Jika sampai kita terjerumus ke dalam dosa, kita mohon ampunanNya dan mohon dibersihkan dari dosa-dosa tersebut sebagaimana bersihnya pakaian yang putih dari noda. Kemudian kita memohon kepada Allah supaya Ia membersihkan diri kita dari bekas dosa tersebut agar benar-benar bersih dan suci dengan kiasan penggunaan air, salju, dan embun. Air untuk membersihkan, sedangkan dinginnya salju dan embun merupakan kiasan untuk menghilangkan pengaruh api neraka (AnNaar) yang panas membakar 5. Imam AlKhottoby mengatakan : “ Penyebutan salju dan embun sebagai bentuk penguatan (akan semakin bersih hasilnya jika air ditambah dengan salju dan embun,- pent.) karena keduanya (salju dan embun) tidak tersentuh/dijamah oleh tangan-tangan”. Ibnu Daqiiqil ‘Ied berkata : “ Pengibaratan semacam itu menunjukkan pembersihan yang sempurna. Karena baju yang dicuci berkali-kali dengan 3 unsur tersebut (air, salju, dan embun) akan mengalami kebersihan yang sempurna “ 6

Rincian Makna :

LAST_UPDATED2 Selanjutnya...
 

Memahami makna Bacaan Sholat bag.2

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 

 

Takbiratul Ihram

Membaca kalimat : اللهُ أَكْبَرُ

Rangkaian ibadah sholat dimulai dengan takbir 1 dan diakhiri dengan salam. Pada setiap pergantian gerakan sholat juga dipisahkan dengan bacaan takbir.

Hendaknya kita berupaya melafadzkan bacaan takbir itu secara benar dan tidak melakukan kesalahan. Ada beberapa kesalahan pengucapan lafadz takbir yang bisa merubah makna dan terhitung sebagai kesalahan fatal. Di antaranya adalah menambahkan huruf hamzah al-istifhaam di awal lafdzhul jalaalah : اللهُ sehingga dibaca panjang di awal, menjadi : آللهُ. Atau, memasukkan hamzah al-istifham itu di awal lafadz : ‘akbar’, sehingga dibaca : اللهُ آكْبَر (Allaahu Aakbar). Kalau ini diucapkan, yang seharusnya berarti : “ Allah Yang Terbesar” (sebuah pernyataan secara yakin) menjadi sebuah pertanyaan : “Apakah Allah besar ? ”. Ini menunjukkan keraguan dan merupakan kekufuran dalam bentuk ucapan. Demikian juga kesalahan dalam memanjangkan bacaan huruf ba’ pada : أَكْبَرُ menjadi أَكْبَارُ mengakibatkan perubahan makna dari “ Yang Terbesar” menjadi “Gendang / bedug ” (bisa dilihat penjelasan Asy-Syaikh Masyhur Hasan Salmaan dalam kitabnya : al-Qoulul Mubiin fii akhtoo-il Musholliin hal 228 terbitan Daaru Ibnil Qoyyim tahun 1993 M/1413 H).

Kesalahan yang lain adalah ketika seseorang membaca huruf laam (ل ) pada lafadz اللهُ dengan tipis (tarqiiq) (lihat Qowaaid Tajwid karya AlQoori hal 82). Bacaan semacam ini mirip dengan yang diucapkan orang nashrani dengan menyebut tuhan A-lah.

Selanjutnya...
 
E-mail Cetak PDF

Syarh Arbain anNawawiyah

HADITS PERTAMA:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالِّنيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ

وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amiirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin alKhottob –semoga Allah meridlainya- ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya amalan-amalan tergantung niat, dan sesungguhnya setiap perkara tergantung apa yang diniatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya untuk (mendapatkan tujuan) dunia yang diupayakan atau wanita yang (ingin) dinikahinya, maka hijrahnya (terhitung) sesuai dengan yang diniatkan (H.R alBukhari dan Muslim)

LAST_UPDATED2 Selanjutnya...
 

Memahami Makna Bacaan Sholat Bag.1

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 

TIPS RINGKAS UNTUK KHUSYU’ DALAM SHOLAT

Pembahasan-pembahasan berikutnya yang akan anda ikuti adalah penjelasan detail tentang makna bacaan-bacaan dalam sholat. Setiap bacaan akan memiliki “rasa” tersendiri. “Rasa” itulah yang sebenarnya harus dihadirkan dalam setiap sholat. Sebagian Ulama’ Salaf menyatakan bahwa setiap ibadah harus diiringi dengan perasaan: (i) cinta dengan pengagungan, (ii) takut, dan (iii) berharap kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Pada saat disebutkan tentang Nama dan Sifat-Sifat Allah serta keagunganNya, dalam diri kita harus timbul perasaan mengagungkan. Jika disebutkan tentang kebaikan-kebaikan, Keadilan-keadilan dan kasih sayang Allah, dalam diri kita mestinya timbul perasaan cinta kepada Allah. Cinta yang berpadu dengan pengagungan tertinggi.

LAST_UPDATED2 Selanjutnya...
 
E-mail Cetak PDF

PERTANYAAN HADITS JABIR TERKAIT PENGATURAN SHOF

Pertanyaan:

Saya membaca hadits Jabir tentang pengaturan shof:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَجَاءَ صَاحِبٌ لِي فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berdiri sholat Maghrib, lalu aku datang dan berdiri di samping kirinya. Maka beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menarik diriku dan dijadikan di samping kanannya. Tiba-tiba sahabatku datang (untuk sholat), lalu kami berbaris di belakang beliau, dan sholat bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam (H.R Ahmad)

Dalam hadits itu tampak jelas bahwa pada awalnya Nabi sholat Maghrib sendirian, kemudian datang Sahabat yang lain. Apakah ini bisa dijadikan dalil bolehnya sholat Maghrib sendirian?

Selanjutnya...
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Di baca